“BANYAK YANG DIPANGGIL, SEDIKIT YANG DIPILIH”

Matius 22:14
Oleh Pdt. Engkih Gandakusumah, STh.

(Materi ini disampaikan pada saat Pembinaan Lanjutan Komisi dan Pengurus Sektor GKP Jemaat Depok Periode 2010-2013  berlokasi di Sukanagalih, Kota Bunga, 26-27 November 2010.)

PENDAHULUAN :

Materi Pembinaan dengan tema: “Banyak Yang Dipanggil, Sedikit Yang dipilih” ini dipilih berdasarkan Injil Matius 22:14. Konteks perikop dari ayat ini, yaitu mengenai Kerajaan Allah yang dibawa oleh Yesus Kristus. Hal Kerajaan Allah ini disampaikan dalam perumpamaan seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin yang mengundang banyak orang, tetapi tidak semua yang diundang itu memenuhi kriteria sebagai peserta pesta perjamuan kawin, yaitu harus mengenakan pakaian pesta. Perikop ini mengajarkan kepada kita dua dimensi, yaitu: dimensi teologis dan dimensi sosiologis.

Dimensi teologis menegaskan bahwa panggilan untuk melayani dalam Kerajaan Allah, yaitu memberitakan Injil Yesus Kristus bersumber dari Allah sendiri sebagai Raja. Dimensi sosiologisnya adalah bagaimana sebagai pelayan-pelayan-Nya, kita harus mempersiapkan “pakaian pesta” agar layak dalam melaksanakan panggilan-Nya itu. “Pakaian pesta” yang dimaksud adalah membangun diri untuk mempunyai motivasi, wawasan, dan kemampuan manajerial dalam melaksanakan panggilan pelayanan sebagai Komisi dan Pengurus Sektor GKP Depok, khususnya aspek kepemimpinan.. Demikian konteks ayat yang menjadi dasar pembinaan kita ini.

Berdasarkan pendekatan dua dimensi ini, saya akan mengajak saudara-saudara agar dalam rangka membangun kesiapan diri sebagai orang-orang yang dipanggil dan juga dipilih Allah untuk melayani sebagai Komisi maupun Pengurus Sektor dengan memperhatikan hal berikut ini :

Membangun Visi Pelayanan Kepemimpinan Gereja dan Jemaat yang sesuai dengan Tritugas panggilan Gereja dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan-nyata persekutuan GKP Depok secara utuh, dalam konteks bidang pelayanan masing-masing, konteks klasis, sinodal, ekumenikal dan masyarakat.

Membangun Visi Pelayanan Kepemimpinan Gereja dan Jemaat sesuai dengan Tritugas panggilan Gereja

Visi Pelayanan Kepemimpinan Gereja harus terarah pada Tritugas Gereja, yaitu : Koinonia, Marturia dan Diakonia. Pelayanan Kepemimpinan Gereja dalam gerak dinamikanya harus terus menerus tertuju pada pengembangan ketiga tugas gereja ini. Kita tahu bahwa tugas panggilan Gereja di dalam dunia ini adalah untuk bersekutu, bersaksi dan melayani. Jadi para pemimpin Gereja dalam berbagai aras pelayanan, khususnya dalam pelayanan Komisi dan sektoral dalam melaksanakan tugasnya untuk memimpin warga Gereja agar dapat melaksanakan Tritugas Gereja tersebut. Oleh karena itu setiap orang yang melayani dan menjadi pemimpin Gereja pada aras Majelis Jemaat, Komisi, bahkan keluarga kristen, hendaknya memahami dengan baik dan benar tentang Tritugas Gereja tersebut. Itulah sebabnya salah satu kriteria untuk menjadi anggota anggota Komisi/Pengurus Bidang Pelayanan adalah “sudah mengaku iman/sidi”. Hanya orang yang sudah mengaku iman (artinya sudah mengikuti katekisasi/pengajaran) yang sudah memahami dan menggumuli mengenai tanggung-jawab sebagai seorang Kristen, yang memahami dan siap melayani dalam konteks Tritugas Gereja. Inilah yang terutama yang harus dimiliki seorang pemimpin yang melayani. Sebelum ia mempelajari dan mengembangkan berbagai keterampilan dalam melayani dan memimpin berdasarkan ilmu sosial (berorganisasi, berbicara di depan umum, memimpin rapat, dan sebagainya), ia harus sudah mempunyai komitmen pengakuan kepada Tuhan Yesus Kristus, sebab dasar pilihan Allah kepada orang-orang yang dipanggil-Nya adalah percaya dan beriman kepada-Nya.

Perlu kita perhatikan sekarang ini anggota jemaat cenderung dalam mengembangkan pelayanan dan kesiapan untuk melayani berdasarkan satu sisi saja, yaitu sisi sosiologis seperti : kemampuan intelektualitas, kemampuan ekonomi dan keterampilan berorganisasi. Sisi ini bukannya tidak penting, tetapi lebih bersifat pendukung dalam rangka seseorang mengembangkan visi pelayanannya sebagai anggota Jemaat. Tetapi yang lebih penting daripada itu adalah bagaimana agar setiap orang yang melayani dan setiap pemimpin Gereja/Jemaat adalah orang-orang yang sungguh-sungguh telah menghayati secara mendalam tentang Tritugas panggilan Gereja.

Jika kita ingin memilih atau siap dipilih untuk melayani dan menjadi fungsionaris Gereja/Jemaat yang mau terus menerus memperhatikan Tritugas Gereja, maka ada tiga unsur dasar yang perlu kita terapkan dalam melaksanakan kepemimpinan tersebut :

1. Partisipasi

Setiap orang yang siap melayani dan menjadi pemimpin harus memperhatikan bahwa pelayanan dan kepemimpinannya tersebut adalah dalam rangka membangun partisipasi umat, bukan membangun “lembaga gereja yang besar dan mempunyai nama yang besar”. Dengan mengembangkan pemahaman ini maka melalui pelayanan dan kepemimpinan tersebut pada akhirnya Tritugas Gereja dapat dilaksanakan oleh semua orang. Melayani dan memimpin orang-orang dalam kehidupan Gereja berarti melibatkan sebanyak mungkin orang untuk berperan secara aktif. Bukan hanya mengembangkan suatu kelompok “elite” tertentu yang sibuk dengan segala tugas, sedangkan anggota Gereja/Jemaat (kaum kategorial yang dilayani atau warga jemaat sektoral) secara menyeluruh menjadi pasif.

Melibatkan banyak orang dalam gerak pelayanan dan kepemimpinan sudah tentu harus disertai dengan kesadaran bahwa orang-orang yang dilayani dan dipimpinnya itu tidak memiliki kesamaan, apalagi kondisi GKP Depok yang majemuk dalam segala hal (suku, sosial, ekonomi, pendidikan, dsb). Untuk itu dalam membangun partisipasi jemaat perlu diperhatikan kebutuhan-kebutuhan tiap-tiap orang.

2. Memandang ke depan, mengarahkan dan menggerakkan.

Suatu jemaat/persekutuan atau komisi/sektor yang merasa telah sampai kepada suatu titik kepuasan tertentu cenderung untuk tidak mau memandang lebih jauh ke depan. Demikian juga dengan jemaat/persekutuan atau komisi/sektor yang merasa pesimis karena banyaknya hambatan yang dihadapi biasanya akan menjadi statis.

Melayani dan memimpin berarti “memandang ke depan” atau memberi dukungan kepada orang-orang untuk mau memandang ke depan. “Memandang ke depan” itu didukung oleh janji-janji Allah sesuai dengan kesaksian Alkitab. Kehidupan kekristenan kita adalah kehidupan yang menantikan “penggenapan Kerajaan Allah” secara sempurna di masa depan.

Namun demikian perlu juga diwaspadi, bahwa suatu jemaat (komisi atau sektor) yang hanya “memandang ke depan” saja tentunya akan menjadi jemaat yang mempunyai pengharapan, namun akan menjadi sia-sia jika tetapi tidak disertai oleh usaha dan upaya agar pengharapan itu menjadi kenyataan. Oleh karena itu jemaat (komisi atau sektor) perlu bertindak melalui kegiatan yang menuju ke penggenapan janji Allah. Untuk itu diperlukan tujuan-tujuan yang dapat terjangkau. Jika kita merumuskan tujuan hendaknya tidak hanya menuliskan “Penggenapan Kerajaan Allah”, tetapi harus jelas, fokus dan terukur ketercapaian.

Berdasarkan hal ini maka seorang yang terpanggil untuk melayani dan menjadi pemimpin yang ingin masuk kategori “dipilih” harus mampu mengarahkan anggota jemaat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya adalah dalam rangka mencapai tujuan kongkrit.

Selanjutnya seorang yang melayani dan memimpin harus dapat memberikan motivasi dan menggerakkan orang lain dalam melaksanakan Tritugas Gereja yang sudah dirumuskan dalam program dan kegiatan-kegiatan yang tujuannya sudah jelas dan menarik untuk mengundang semua orang berperan aktif melaksanakannya.

3. Keterbukaan dan dukungan.

Tugas pelayanan dan kepemimpinan tak dapat dilaksanakan tanpa keikut-sertaan orang lain. Oleh karena itu pemimpin perlu terbuka terhadap masukan bahkan kritikan orang lain. Terbuka di sini bukan hanya “mendengarkan” atau “menampung”, melainkan secara konsekuen menggumuli setiap masukan tersebut sebagai “dukungan” terhadap pelayanan dan kepemimpinannya.

Ketiga unsur dasar pelayanan dan kepemimpinan ini diharapkan dapat mewarnai pelayanan dan kepemimpinan Gereja/Jemaat pada aras Komisi dan Sektor. Tetapi mengingat pelayanan dan kepemimpinan tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai kondisi, di antaranya pola pendekatannya, maka biasanya akan terbentuk tipe-tipe pelayanan kepemimpinan yang secara umum dapat kita bagi menjadi empat tipe, yaitu :

1.  Tipe Karismatis.

Pelayanan kepemimpinan tak dapat dilepaskan dari karunia yang Tuhan berikan kepada setiap orang. Oleh karena itu tak dapat kita sangkal adanya pelayanan kepemimpinan yang bersifat karismatis, yaitu pelayanan kepemimpinan yang berpusat pada satu orang. Ia begitu “mempesona”, sehingga orang lain mau mengikuti pelayanan kepemimpinannya secara sukarela. Tipe pelayanan kepemimpinan karismatis ini melahirkan partisipasi yang bersifat : mengikuti, bergantung, satu arah. Orang yang melayani sebagai seorang pemimpin karismatis melihat ke depan dan selalu mendahului, menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang belum dilihat orang lain. Ia peka terhadap keprihatinan-keprihatinan yang aktual, ia mendobrak peraturan-peraturan dalam gereja dan masyarakat. Ia lebih mahir berbicara daripada mendengarkan. Ia meyakinkan dan sulit terbuka untuk pendapat-pendapat yang berbeda dengan pendapatnya.

2.  Tipe otoritatif.

Dalam pelayanan kepemimpinan tipe otoritatif ini arah partisipasi adalah dari atas ke bawah. Seseorang yang melaksanakan pelayanan kepemimpinan tipe otoritatif adalah seorang yang menerima wewenang secara istimewa dan dalam tradisi Gereja dilakukan melalui penumpangan tangan.

Tipe ini harus dibedakan dengan “Gaya kepemimpinan otoriter”, yaitu pelayanan kepemimpinan seseorang yang cenderung menggunakan “kuasanya” untuk mengalahkan atau menindas orang lain.

3.  Tipe konsultatif.

Tipe konsultatif ini menekankan partisipasi yang bersifat dua-arah. Tipe pelayanan kepemimpinan konsultatif ini mendorong munculnya partisipasi anggota dalam memberikan sumbangan pemikiran dan inisiatif, sehingga semua orang merasa bertanggungjawab terhadap karya-karya mereka. Seorang yang melayani yang memiliki tipe ini akan merasa tidak dapat bekerja sendirian tanpa dukungan anggota. Meskipun demikian pusat pelayanan kepemimpinan masih ada padanya.

4.  Tipe kolegial.

Sama dengan tipe konsultatif, pelayanan kepemimpinan bertipe kolegial menekankan partisipasi dua-arah. Tipe kolegial ini menekankan sebanyak mungkin dan seintensif mungkin partisipasi orang. Pelayanan kepemimpinan tipe ini mendorong dan meningkatkan partisipasi, menghargai keahlian yang bermacam-macam, memupuk penghargaan, mengalihkan konflik dalam kompetisi menjadi kerjasama yang baik.

Pusat tanggungjawab lebih pada kelompok bukan para perorangan. Tipe ini dapat disebut juga tipe pelayanan kepemimpinan suportif, yaitu kepemimpinan yang mengarah kepada kerjasama kolegial dan pembentukan “tim pastoral”.

Dalam kepemimpinan tipe ini “proses” menjadi sesuatu yang sangat penting.

Menerjemahkan Visi Pelayanan Kepemimpinan Gereja/Jemaat dalam kehidupan-nyata persekutuan.

Dalam rangka menerjemahkan visi pelayanan kepemimpinan gereja dalam kehidupan-nyata persekutuan, ada 3 konteks yang perlu kita perhatikan, yaitu :

1. Konteks kehidupan pribadi.
2. Konteks kehidupan Gereja/Jemaat/Komisi/Sektor
3. Konteks pelayanan kepemimpinan itu sendiri

1. Konteks kehidupan pribadi

Dalam menjalankan pelayanan kepemimpinannya, seseorang sangat ditentukan oleh kehidupan pribadinya. Hal ini berkaitan dengan soal : spiritualitas, tanggungjawab dan  komitmen, moral-etis, waktu, motivasi, disiplin, dsb.

Kalau kita ingin melayani dan menjadi seorang pemimpin dalam gerak perjalanan Gereja/Jemaat melaksanakan Tritugas panggilannya, maka kita harus memiliki nilai kehidupan spiritualitas yang baik. Bagaimana mungkin kita dapat melayani dan memimpin, jika berdoa saja merasa tidak bisa, tidak pernah ke gereja, tidak pernah membaca Alkitab. Selanjutnya seorang yang melayani dan menjadi seorang pemimpin adalah seorang yang selalu “komit” terhadap janji-janjinya sendiri, sehingga ia dilihat sebagai seorang yang memiliki tanggungjawab. Seorang yang siap melayani dan menjadi seorang pemimpin adalah seorang yang menjadi panutan bagi yang dilayani dan dipimpinnya, oleh karena itu sebaiknya ia seorang yang sopan dalam bertutur-sapa, dan mengenal etiket pergaulan pada umumnya. Seorang pelayan dan pemimpin yang tidak dapat mengatur waktu, selalu terlambat dalam memimpin kegiatan, bahkan tidak dapat datang adalah seorang yang akan menyulitkan Komisi/Sektor dalam melaksanakan Tritugas panggilan Gereja. Seorang pelayan dan pemimpin sebaiknya seorang yang memiliki motivasi kuat, sehingga tidak mudah “goyah” oleh berbagai tantangan, apalagi sampai “menyatakan mundur” dari jabatan kepemimpinannya, karena lemah motivasinya. Ini salah satu bagian dari “pakaian pesta” yang harus disiapkan dan dipakai.

2. Konteks kehidupan GKP Depok.

Sebagai salah satu Jemaat GKP yang mempunyai Triwawasan (Ke-GKP-an, Oikoumene dan Kemasyarakatan/kebangsaan) dan berada di wilayah kebersamaan Klasis Bogor dan kebersamaan PGIW Jawa Barat, persekutuan kita ini sangat memperhatikan peranan warga jemaat. Kehadiran Ibu Elsa sebagai seorang pendeta jemaat adalah wujud kehadiran pelayanan GKP di jemaat ini, akan membangkitkan semangat kesadaran hidup berjemaat dan bergereja yang berwawasan, sehingga struktur pelayanan dan kepemimpinan selalu dilihat dalam konteks kebersamaan, tidak hanya internal.

Untuk mampu melaksanakan pelayanan kepemimpinan yang berwawasan tadi, maka ada tiga fungsi kepemimpinan yang harus terus-menerus diperkembangkan dalam pelayanan kepemimpinan gereja, yaitu :

1. Fungsi Differensiasi.
2. Fungsi Koordinasi.
3. Fungsi Finalisasi.

1. Fungsi Differensiasi :
Dalam rangka melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggung-jawab pelayanan kepemimpinannya dan dalam rangka membangun partisipasi aktif segenap anggota jemaat, maka suatu kelompok pelayan dan pemimpin, baik Pengurus Sektor maupun Komisi hendaknya mempercayakan pelaksanaan tugasnya kepada orang-orang lain.

Berdasarkan fungsi pelayanan kepemimpinan ini, maka percayakanlah berbagai hal pelaksanaan di bidang-bidang tertentu kepada orang lain yang telah diangkat untuk itu. Itulah sebabnya dalam melaksanakan tugasnya Majelis Jemaat mengangkat Komisi-Komisi dan Pengurus Sektor, sehingga semua pekerjaan tidak menumpuk pada seseorang, yang bisa menyebabkan ia menjadi “terbeban berat” atau menjadi “sombong”. Jadi pengangkatan ini bukan karena Majelis Jemaat ingin bebas dari tanggungjawabnya.

2. Fungsi Koordinasi :
Kekuatiran terhadap sistem diangkatnya orang-orang lain untuk melaksanakan tugas tertentu adalah bahwa mereka akan melakukan hal-hal yang tidak sesuai kebijaksanaan pemimpin. Hal ini dapat diatasi jika  fungsi  koordinasi ini berjalan baik.

Salah satu contoh adalah adanya Koordinator-Koordinator Bidang Pelayanan di Jemaat, yaitu anggota Majelis Jemaat yang  ditugaskan untuk mendampingi Komisi Kategorial maupun Bidang khusus dalam menjalankan pelayanannya.  Tugas anggota Majelis Jemaat Koordinator Komisi Pemuda adalah untuk menyampaikan keputusan-keputusan Rapat Majelis Jemaat kepada Komisi Pemuda, sekaligus juga menerima aspirasi Komisi Pemuda agar keputusan Rapat Majelis Jemaat mengenai pemuda adalah relevan, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pemuda jemaat, bukan hanya kebutuhan Majelis Jemaat sebagai pimpinan jemaat.

Fungsi Koordinasi bukan saja dalam rangka “menjaga” agar segala keputusan Majelis Jemaat dapat terlaksana, tetapi juga agar tiap-tiap Komisi tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.

Komisi Pelayanan Anak mampu melaksanakan keputusan Majelis Jemaat dan program programnya karena mampu mencari dana dan di jemaat kita KPA dapat dikatakan Komisi yang mampu menjadi contoh bagi Komisi lainnya dalam hal program dan pendanaannya. Namun demikian kita harus mewaspadai jangan sampai ada Komisi yang dapat melaksanakan program karena mampu membiayai diri sendiri, tetapi ada Komisi yang tidak bertumbuh karena ketiadaan dana.

3. Fungsi Finalisasi :
Fungsi yang ketiga ini sangat sering dilupakan, banyak Gereja/Jemaat/Komisi/Sektor berjalan dengan program yang bagus dengan kegiatan yang menarik tetapi tidak tahu apa tujuan mereka.  Ibarat sesuatu yang berputar-putar di suatu lingkaran yang tak pernah melangkah maju ke depan.

Finalisasi sangat erat sekali dengan tujuan yang mau dicapai. Komisi dan Pengurus Sektor sebagai Pimpinan Kategorial dan Sektoral Jemaat harus mempunyai Tujuan dalam melaksanakan tugasnya, apa yang mau dicapai dalam kurun waktu 2 tahun masa pelayanannya? Kondisi apa yang diinginkannya untuk dapat membangun jemaat sebagai Tubuh Kristus? Dan secara spesifik apa yang diharapkan perubahan yang terjadi pada kategori maupun sektornya?

Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya mendorong Komisi/Pengurus Sektor dalam Rapat-rapatnya selalu mengingat pentingnya memutuskan suatu tujuan, dan bagaimana tujuan itu dirumuskan menjadi tujuan yang akan dicapai Komisi agar tujuan kebersamaan dalam kepemimpinan Majelis Jemaat dapat tercapai.

Differenisasi dan Koordinasi dilakukan untuk apa, kalau bukan untuk mencapai tujuan.

Peran pendeta jemaat perlu dihadirkan dalam rapat-rapat Komisi dan Pengurus Sektor, sebagai seorang teolog yang telah dididik khusus untuk itu kiranya mampu memberi visi dan misi pelayanan kepemimpinan Gereja, sehingga tujuan-tujuan yang ditentukan sesuai dengan visi dan misi Gereja,  dalam  hal ini adalah visi dan misi GKP.

Dalam rangka melaksanakan fungsi ini, kita harus dapat membedakan mana yang dimaksud dengan arah/visi dan mana yang dimaksud dengan tujuan.

Selama ini banyak orang dengan mudah saja mengatakan, bahwa tujuan Gereja adalah: Mewujudkan Kerajaan Allah. Apa yang dimaksud dengan Kerajaan Allah? Bagaimana kita menilai apakah tujuan kita sudah tercapai? Kriteria apa yang kita pakai untuk menilai?

Apa yang disebut Kerajaan Allah lebih merupakan arah yang akan  selalu  membimbing kita  dalam menentukan tujuan-tujuan kita.

Beberapa  catatan penting dalam rangka menentukan tujuan adalah :

1. Merupakan suatu hasil yang diharapkan melalui perubahan  dari  kondisi yang tidak dikehendaki menjadi suatu kondisi yang dikehendaki yang sesuai dengan Kehendak Allah.

2. Suatu hasil yang dapat dinilai ketercapaiannya berdasarkan kriteria yang ditentukan sebelumnya.

3. Bersifat sederhana, terjangkau, kongkrit dan satu fokus.

4.  Sesuatu yang menarik, sehingga semua orang tertarik untuk terlibat dalam upaya mencapainya.

Dalam kesadaran bahwa kepemimpinan Komisi/Pengurus Sektor adalah kepemimpinan kolegial, maka kita perlu memperhatikan pedoman yang ada, dalam hal ini Tata Gereja dan PPTG GKP serta Job Description.

Hal penting yang harus diperhatikan untuk pengembangan pelayanan kepemimpinan adalah hal penyelenggaraan Rapat Komisi/Pengurus Sektor.

Rapat mempunyai arti dan peranan   yang  bukan saja penting tetapi juga sentral. Artinya tanpa Rapat, Komisi/Pengurus tidak mungkin melakukan tugas, kewajiban dan tanggung-jawabnya.  Jika ada Ketua atau anggota  Komisi/Pengurus melakukan tugas, kewajiban dan tanggung-jawabnya tanpa Rapat, dia melakukannya bukan sebagai anggota Komisi/Pengurus yang ditugaskan berdasarkan keputusan Majelis Jemaat, melainkan hanya menurut keinginan dan seleranya sendiri.

Tetapi perlu pula kita perhatikan jangan sampai meja rapat menjadi akhir dari segala-galanya. Rapat adalah sarana yang akan membekali tindak-lanjut pelayanan kita. Jangan sampai pelayanan kita tidak dirasakan lagi karena waktu yang ada habis untuk melaksanakan rapat-rapat.

3.  Konteks kehidupan pelayanan kepemimpinan itu sendiri
Suatu pelayanan kepemimpinan sangat ditentukan oleh konteks orang-orang yang dipimpin. konteks (anak-anak, remaja, pemuda, perempuan, pria, lansia, dan sektoral).

Kepemimpinan Gereja mempunyai konteksnya tersendiri yang mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :
a.  Warga Gereja/Jemaat terdiri dari berbagai kondisi kelompok yang berbeda. Dan masing-masing kelompok berjumlah cukup banyak. Kelompok itu antara lain : anak-anak, remaja, pemuda sebagai pelajar (SLTA), mahasiswa, mereka yang sudah bekerja, belum bekerja, perempuan, pria, lanjut usia/pensiunan, dan sebagainya. Dalam melaksanakan pelayanan kepemimpinan gereja kondisi ini perlu mendapat perhatian dalam program-programnya.
b.  Warga Gereja/Jemaat adalah orang-orang yang harus menghadapi berbagai masalah kehidupan : masalah ekonomi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya.
c.  Warga Gereja/Jemaat, di tengah perkembangan zaman sangat membutuhkan keterbukaan terhadap inovasi-inovasi baru.
d.  Warga Gereja/Jemaat membutuhkan sarana dan kesempatan untuk mengembangkan kreatifitas sehubungan dengan talentanya (musik, drama, seni lukis, menyanyi, dsb).
e. Warga Gereja/Jemaat karena keterbukaannya bersifat kritis.
f.   Warga Gereja/Jemaat memiliki idealisme yang sangat tinggi.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka para pemimpin Gereja perlu mengembangkan pelayanan kepemimpinannya dengan memperhatikan kondisi masing-masing kategorial tiap warga jemaat agar jika mereka terbuka, keterbukaan tersebut tidak akan membuat mereka kehilangan identitasnya, agar daya kritis mereka dapat tersalurkan secara positif, dan kreatifitas mereka dapat berkembang dengan program-program yang relevan, dsb.

PENUTUP

Dalam kesadaran bahwa panggilan gereja adalah untuk memberitakan Injil ke seluruh bumi, maka pemahaman dan pelaksanaan mengenai pelayanan kepemimpinan pada aras Komisi dan Pengurus Sektor ini perlu terus menerus ditingkatkan dan dikembangkan, sehingga saudara-saudara benar-benar termasuk kategori orang-orang yang dipanggil namun juga dipilih.
______________________________________________________________