Penguatan “Keluarga agar Mampu Bersyukur dan Mengasihi Sesama”

Oleh: Pdt. Supriatno, MTh.

Dalam Buku “PEKAN KELUARGA HUT 79″

GEREJA KRISTEN PASUNDAN

Pendahuluan

Kecelakaan di jalan tol jagorawi, Jakarta beberapa waktu lalu merenggut 6 orang tewas. Penyebab utama, seorang remaja berusia 13 tahun, putra musisi tenar di negeri ini, Ahmad Dani, mengemudikan mobil tanpa mampu mengendalikannya. Sehingga dalam kecepatan tinggi mobil tersebut berpindah jalur dan menabrak mobil dari arah yang berlawanan. Tragis nian. Dalam usia yang belum matang secara psikologis dan secara hukum belum mempunyai Surat Ijin Mengemudi (SIM), si Dul, nama remaja tersebut, membawa mobil sedannya dan malam itu ternyata menjadi sumber malapetaka di jalan raya.

Komentar berhamburan di berbagai media massa dan sosial. Ada yang memberi komentar bahwa anak ini merupakan ‘buah’ salah asuh. Ini jelas ke arah mana tudingan di arahkan, tentu orang tua si Dul. Dengan ungkapan salah asuh orang tua diposisikan sebagai pihak yang telah gagal menjalankan fungsi pembimbingan. Orang tua si Dul berhasil menyediakan fasilitas, sayangnya tanpa alfa membekali anaknya dengan norma yang seharusnya. Demikian kira-kira cara pandang yang berkomentar salah asuh.

Atau, bisa saja pihak lain berkomentar berbeda, yakni si Dul adalah sosok remaja yang dinilai telah salah gaul. Artinya, ia membaurkan diri dalam lingkungan yang keliru. Buktinya, si Dul bersama temannya sama-sama remaja, masih keluyuran padahal hari telah larut malam. Dengan penilaian salah gaul diasumsikan lingkungan pergaulannya telah mengajarkan pada si Dul, bahwa masa remaja merupakan momen kehidupan untuk bersenang-senang. Salah satu kesenangan adalah mencecap betapa nikmatnya mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi.

Kita tidak tahu persis apakah si Dul, sang remaja yang terkena musibah ini, merupakan korban salah asuh, atau salah salah gaul, ataupun paduan keduanya. Kasus si Dul menjadi ilustrasi buat kita, kegagalan membangun keluarga berdampak anggota keluarga yang gagal mengasihi sesama. Kita melihat tadi betapa di usia yang muda seorang remaja yang dilimpahi banyak fasilitas, tetapi karena tidak mempunyai kontrol diri yang kuat, tindakannya tidak sesuai aturan.

Karena faktor usia, sepatutnya fungsi kontrol harus dilakukan orang tua atau keluarga. Sayang sekali, betapa beratnya tugas tersebut bagi orang tua atau keluarga yang rapuh. Keluarga seyogyanya mampu mengantar anaknya yang berada pada usia remaja masuk ke tingkat kematangan mental. Karena salah-salah menjalankan peran ujung-ujungnya anggota keluarga tersebut membuat perbuatan berakibat fatal bagi orang lain.

Lingkungan Keluarga Kristen

Selain peristiwa tragis yang berkaitan dengan remaja bernama Dul, seperti ilustrasi di atas. Mari kita lihat juga ilustrasi lain. Berita-berita muram tentang kerapuhan keluarga juga mengisi kolom berita dan tayangan media massa. Belakangan marak terjadi peristiwa kekerasan dengan modus yang beragam. Kekerasan dengan corak fisikal maupun seksual memperlihatkan data yang memilukan. Kita merasa gundah karena justru pelaku dan korbannya banyak berasal dari keluarga terdekat. Seorang suami begitu teganya membekap istrinya sendiri hingga ajal. Anak tanpa rasa belas kasihan dan perasaan berdosa mengakhiri hidup ayahnya, hanya gara-gara uang jajan. Bahkan ada juga, ibu yang tega menjuaI putrinya untuk menjajakan diri ( human traficking). Itu baru beberapa contoh kasus, yang tentu masih bisa kita tambah dengan deretan contoh keluarga yang vakuum kasih kepada sesama.

Dalam pembentukan watak, mental dan kepribadian seseorang, sedikitnya terdapat empat (4) lingkungan strategis. Mengapa disebut strategis? Disebut strategis lantaran sangat efektif mempengaruhi gaya, watak, mental, kebiasaan dan sikap seseorang. Yang disebut lingkungan strategis antara lain meliputi: keluarga, gereja, sekolah dan lingkungan pertemanan. Kita telah mengetahui secara gamblang, bahwa manusia adalah makhluk sosial. Artinya, tidak mungkin seseorang bisa berkembang, maju dan mengaktualisasikan dirinya tanpa kehadiran dan peran orang lain. Untuk itu, dalam keberadaannya sebagai makhluk sosial maka empat lingkungan strategis itu mempunyai posisi yang amat menentukan.

Iman kristiani kita mengamini, Tuhan itu baik bagi semua orang termasuk anak-anak dalam keluarga. Sepatutnya, anak dan orang tua terikat dalam ikatan kasih sayang. Gereja Kristen Pasundan sangat perduli dengan isu lingkungan keluarga. Di lingkungan GKP anak-anak disentuh dalam pelayanan sekolah minggu. Keluarga didekati dengan pelayanan ibadah keluarga. Namun, rupanya kita tidak boleh lengah, contoh-contoh riil di atas menunjukkan eksistensi keluarga sedang terancam situasi jaman. Dering bahaya ini hendaknya membuat kita siuman bahwa kekuatan destruktif sedang berada di ambang kehidupan keluarga dan masyarakat kita. Rasa tidak aman ternyata justru berada di tengah keluarga. Sebagai Gereja kita seyogyanya tersentak, dan selanjutnya kita mengambil langkah-langkah membangun atau konstruktif agar keutuhan dan kekokohan kehidupan keluarga dapat terjaga. Keluarga yang kokoh pasti di dalamnya ditopang kasih dan semangat bersyukur.

Pekerjaan rumah yang tidak dapat ditunda

Menyikapi betapa gempuran atas keberadaan keluarga makin deras, dan dampaknya merugikan misi mengasihi sesama di tengah kehidupan keluarga dan masyarakat. Beberapa hal penting patut kita lakukan, yaitu antara lain:

1. Ibadah dan Firman Tuhan berada di Jantung Kehidupan Keluarga Kita.

Hal ini menandaskan kandungan makna, bahwa suasana dan kualitas kehidupan keluarga hendak berjalan dengan merujuk pada Allah dan pesan-pesan yang terkandung dalam firman Tuhan. Kita ingat ucapan Yosua yang tegas dan jelas, pada saat akan memasuki tanah perjanjian,”…tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” ( Yosua 24:15b).

Yosua sadar bahwa memasuki hari-hari ke depan mereka kelak menjumpai banyak pilihan menggoda, yang potensial menggelincirkan iman dan keyakinan mereka dari kesetiaan kepada Allah yang telah mengantar dari tanah perbudakan dan padang gurun, beralih ke kepercayaan lain yang bertentangan dengan kehendak Allah. Bagi Yosua memasuki masa depan dengan panduan pengalaman bersama Allah merupakan pilihan utama dan satu-satunya serta yang terbaik bagi Yosua, keluarga dan bangsanya. Pertautan diri dengan Allah yang mengasihi dan mengikatkan diri dengan kehendakNya merupakan fondasi keluarga.

Banyak kisah keluarga yang terjungkal karena hantaman badai kehidupan. Anak-anak asyik dengan dunianya, orang tua tenggelam dengan kesibukannya. Akhirnya, di antara anggota keluarga merasa terasing satu sama lain. Bahasa kasih terasa langka. Kemodernan memberi kita kelimpahan produk teknologi komunikasi, namun itu bukan berarti sekaligus jaminan makin memperkuat kualitas cinta kasih. Lihatlah, banyak orang duduk berhadapan, face to face, sayangnya tidak ada interaksi dan komunikasi karena mereka tenggelam dengan Hp-nya masing-masing. Padahal, berkomunikasi adalah wujud cinta kasih yang nyata.

Penulis senang dengan kiriman pesan-pesan rohani atau renungan singkat dari teman-teman. Saya membacanya dan kerap memberi topangan kekuatan rohani, dan pesan-pesan itu bagi penulis sangat inspiratif serta mencerahkan. Lewat pesan-pesan itu, saya diingatkan dengan pesan-pesan yang bisa menghibur maupun memberi pengetahuan. Dan penulis akan lebih senang jika anggota keluarga si pengirim pun mendapat kiriman pesan-pesan sms atau bbmnya. Jika tidak, sungguh ironis, orang lain disapa dan dibangun komunikasi yang dilandasi perhatian, sedangkan komunikasi dengan keluarganya sendiri tidak terjalin.

Yosua menjadi salah satu contoh di antara banyak contoh dalam Alkitab, yang menyatakan betapa pentingnya keluarga kita mengiikatkan diri dengan Allah dan ibadah kepada-Nya. Tentu Anda mengenal sebuah lagu yang salah satu penggalan syairnya menyatakan, “ Tuhan sejauh doa…” Maksudnya, dengan doa kita merasa betapa dekatnya Allah kita yang baik. Sebaliknya, tanpa doa betapa terasa jauhnya Tuhan itu. Jadi, komunikasi sebagai wujud cinta kasih mendekatkan, dan tanpa komunikasi sebuah relasi menjadi jauh. Keluarga yang menjadikan Allah dan firman-Nya pusat kehidupannya, maka keluarga itu menjadi dekat dengan Allah dan kelak dengan sesama juga.

2. Role Model dalam Keluarga

Ucapan, pikiran dan tindakan seseorang bisa lahir ikut ditentukan pengaruh dari luar dirinya. Kesadaran dan dorongan untuk berbuat baik tidak terlepas dengan kehadiran sosok yang menjadi role model, tokoh panutan. Bagaimana seorang anak mentaati permintaan ayahnya untuk mengikuti sekolah minggu jika sang ayahnya sendiri selalu absen dalam ibadah minggu. Pesan, nasehat, persuasi atau bujukan dan permintaan akan efektif ketika disertai dengan contoh-contoh perilaku yang telah dijalani. ‘penyakit’ yang kerap mencuat adalah adanya standar ganda. Maksudnya, menuntut agar orang lain mematuhi aturan atau norma, padahl dirinya sendiri melanggar norma-norma tersebut.

Saya mengenal seorang warga GKP yang rajin, setia dan konsisten berpartisipasi dalam pelayanan. Keterlibatannya dalam pelayanan mencakup sumbangsih pikiran, tenaga dan juga keuangan. Saya penasaran. Saya ingin tahu bagaimana proses yang membentuk dirinya mempunyai komitmen dan keterlibatan konkrit seperti itu. Terungkap lewat penuturannya, bahwa ia bisa seperti demikian karena mengikuti pesan ibunya dan mencontoh apa yang telah dilakukannya. Semasa hidup, ibundanya sangat aktif di pelayanan gereja, dan sangat mendukung secara material manakala gereja membutuhkannya. Kisah ini diangkat untuk menunjukkan pesan moral, bagaimana seorang ibu telah menjadi role model bagi anaknya. Dalam kalimat lain, role model adalah menjadi panutan. Menempatkan diri menjadi teladan.

Pada suatu hari, alm. Mahatma Gandhi, seorang negarawan dari India yang terkenal dengan ajaran tanpa kekerasannya, dimintai tolong oleh seorang ibu agar berkenan menasihati anaknya untuk tidak terus-menerus memakan permen. Gandhi bersedia. Dia berjanji minggu berikutnya akan melakukan apa yang diminta si ibu. Seminggu kemudian, ibu itu dan anaknya menghadap kembali sang Negarawan sederhana tapi hidupnya mulia itu. Mahatma Gandhi lalu melakukan apa yang diminta si ibu, dia berkata agar si anak jangan makan permen.

Si ibu yang melihat apa yang dilakukan dan dikatakan Mahatma Gandhi, sedikit kurang puas cuma menasihati sesederhana itu harus menunggu waktu selama satu minggu. Ia kemudian bertanya, apa sebabnya untuk hanya mengatakan jangan makan permen harus menunggu cukup lama. Gandhi menjawab, mengapa harus menunggu satu minggu karena minggu lalu ia masih suka makan permen juga. Artinya, Mahatma Gandhi tidak ingin melakukan standar ganda. Ia mau memberi nasihat yang ia sendiri memang tidak melakukannya. Standar ganda kerap membingungkan anak-anak di dalam keluarga tentang kepastian kepatuhan atas nilai-nilai.

Kekosongan figur panutan di tengah masyarakat kita menjadi keprihatinan saat ini. Ditemukan antara ucapan seseorang dan perbuatannya sering tidak seiring sejalan. Seharusnya kita belajar dari buah manggis, atau manggu dalam bahasa Sunda. Jumlah ‘bintang’ di bagian luarnya selalu sama dengan jumlah biji dan daging yang ada di dalam. Jumlahnya selalu selaras. Dalam keluarga kristen penting sekali ayah atau ibu bisa menjadi role model bagi anak-anaknya. Sedangkan dalam kehidupan berjemaat seorang pendeta harus mampu menjadi role model bagi warga jemaat. Memang tidak perlu berlebihan menjadi ikon atau idola, dengan bisa memperlihatkan kemampuan mewujudkan antara kata dan perbuatan selaras, kita sudah bisa menjadi role model bagi orang lain. Jadi, sebuah keluarga mampu bersyukur jika di keluarga itu figur ayah atau ibu tidak selalu menggerutu atau tidak puas dengan menghadapi segala sesuatu.

3. Metode Menarik dan Relevan dalam Menanamkan Nilai-nilai di Tengah Keluarga.

Dunia sudah jauh berubah. Kondisi hidup sekarang berbeda jauh dengan 20 atau 30 tahun lalu, misalnya. Sekarang alat komunikasi seperti hand phone sudah menjadi milik massal. 20 atau 30 tahun lalu mana ada yang mempunyai alat komunikasi itu? Saya masih ingat dua puluh tahun lalu di Cirebon, pada suatu hari minggu seorang tamu mengikuti ibadah minggu. Di pinggangnya terdapat kantung hand phone dan isinya. Wah, cuma dia satu-satunya yang hadir dengan hand phone. Terasa betapa bergengsinya alat komunikasi itu pada waktu itu. Sekarang? Dalam satu keluarga saja bisa terdapat 3-4 buah hand phone

Situasi telah banyak berubah. Demikian pula sebenarnya pola komunikasi telah mengalami persegeran. Kini pola komunikasi bersifat dialogis lebih disukai daripada hanya monolog. Komunikasi dua arah lebih diminati ketimbang satu arah. Sayangnya, banyak orang atau pihak yang masih menggunakan paradigma lama dalam berkomunikasi. Orang tua yang masih menggunakan gaya instruktif dan satu arah dalam berkomunikasi dengan anaknya. Tentu saja hasilnya tidak optimal. Kita orang tua harus mengubah style atau gaya komunikasi kita, jika tidak hasilnya kurang optimal. Anak-anak atau remaja, begitu juga pemuda akan mengapresiasi jika didekati dengan pola komunikasi dialog. Orang tua tidak hanya membuka mulut, tetapi juga harus membuka telinga. Dengan metode dialog terjadi komunikasi timbal-balik yang menguatkan masing-masing.

Suatu ketika Tuhan Yesus bertemu dengan seorang perempuan yang telah sekian lama mengalami penyakit pendarahan. Tuhan Yesus tidak memperlihatkan sikap serba tahu. Justru dengan rendah hati Ia mengajukan pertanyaan, “ apa yang kau ingin Aku perbuat untukmu?”. Ini pertanyaan yang mencerminkan sebuah pola dan metode komunikasi dialog. Tuhan Yesus sendiri mempraktekkan kesediaan mau mendengar!

Dengan dialog kita menghargai teman bicara kita. Ketika kita menghargai anak-anak kita. Di situ kita juga hendak memperlihatkan sikap mau mendengar mereka. Dengan tegas bisa saya katakan, bukan jamannya lagi hanya anak-anak yang perlu mendengar suara kita. Orang tua pun sudah seharusnya mau mendengar suara anak-anaknya. Sudah semustinya kita berkomunikasi dengan orang lain, tidak hanya suara kita saja yang ingin didengar orang lain. Kita pun sebaiknya mendengar suara orang lain. Pepatah Yahudi mengatakan, “ God creates man one mouth and two ears”, Allah menciptakan manusia dengan satu mulut beserta dua telinga. Maksud pesan pepatah ini adalah supaya manusia lebih banyak mendengar daripada berkata-kata. Menanamkan keluarga yang bersyukur dan mengasihi sesama sudah kuno alias out of date jika memakai metode monolog atau satu arah.

4. Membangun dan Melestarikan Tradisi-tradisi Kekeluargaan di dalam Jemaat

Penulis kerap melontarkan joke atau ungkapan jenaka, “ orang GKP tidak apa-apa tidak punya dollar, yang penting punya dulur.” Betapapun dulur atau saudara tidak kalah kecil artinya dibanding dollar atau uang. Apa artinya mempunyai kekayaan tanpa disertai saudara di samping kanan-kiri kita. Lalu dengan siapa kita merayakan kekayaan kita?

Ungkapan bahwa Jemaat-jemaat GKP sangat kental suasana kekeluargaannya, bisa jadi didukung fakta yang nyata. Dan nilai ini sangat dibutuhkan di tengah suasana kehidupan yang kompetitif. Dalam suasana persaingan orang bisa berperilaku menyikut kiri-kanan. Demi pencapaian target pribadi selanjutnya orang lain dikorbankan. Gereja adalah persekutuan orang percaya kepada Tuhan Yesus selaku Juru Selamat. Makna persekutuan bukan hanya sekedar kumpul-kumpul. Persekutuan tidak sebatas ririungan. Persekutuan lebih dari itu semua.

Persekutuan gerejawi menyangkut persatuan dan kesatuan penuh persaudaraan yang diikat oleh nilai-nilai iman kristiani yang mengandung respek untuk kebersamaan, sekaligus menaruh rasa hormat pada orang-perorang yang menjadi anggota persekutuannya. Di dalam persekutuan gerejawi kita berjuang mempraktekkan sikap sehati –sepikir. Di dalam persekutuan itu pula kita bisa menemukan dan mencecap perhatian dan kasih mesra timbal-balik yang saling menguatkan satu sama lain ( lih Fil 2; Galatia 5).

Nilai-nilai baik di atas, tidak bisa berjalan alamiah. Kekeluargaan atau persaudaraan harus diciptakan, sekaligus dikembangkan dan dilestarikan. Kita tidak mau persekutuan menjadi kumpulan orang-orang yang tidak menemukan kehangatan dan persaudaraan. Kita tidak ingin kehangatan dan persaudaraan menjadi redup lalu mati karena kelalaian kita. Untuk itu, perlu ada kegiatan-kegiatan yang dirancang secara sengaja sehingga kehangatan persaudaraan tetap terjaga dan terlestari.

Syukurlah, di beberapa Jemaat GKP momen kebaktian syukur tahunan makin efektif menjadi tradisi-tradisi yang positif untuk memelihara ‘api’ persekutuan. Botram atau makan bersama, misalnya, merupakan tradisi yang memperkuat rasa kedekatan antar warga jemaat. Di Jemaat-jemaat GKP lain, saya menemukan mereka sangat kreatif membuat bentuk-bentuk aktivitas yang bersifat kekeluargaan. Perayaan HUT GKP kiranya menjadi momen sifat kekeluargaan di tengah Jemaat disegarkan lagi. Kita tidak akan mampu mengasihi secara tulus kepada orang lain, jika tanpa menempatkan mereka sebagai saudara atau dulur.

Penutup

Dalam keluarga dengan tingkat konflik tinggi dan kurang hangat, baik figur ayah atau ibu akan kehilangan pengaruh dan wibawa menjalankan fungsi menasihati. Bimbingan dan nasihat orang tua bagaikan kata-kata kosong yang tidak digubris. Dulu pepatah yang dipakai untuk seseorang yang tidak menggubris nasihat, bimbingan dan arahan yang positif disebut “masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.” Sekarang ungkapannya berubah. Ungkapannya adalah, “ tidak masuk telinga kiri, tidak masuk juga telinga kanan.” Oleh karena itu, ketika kita merayakan Pekan Keluarga dalam rangka menyongsong dan merayakan HUT GKP ke-79, mari kita mengencangkan sendi-sendi kehidupan keluarga kita. Dengan demikian dalam keluarga kita di atas landasan iman, pengharapan dan kasih, kita selalu bersyukur dan mengasihi sesama.